Jumat, 28 Oktober 2011

ANALISIS SWOT

ANALISIS SWOT


KEKUATAN 

o Nestlé beroperasi di 103 negara di dunia sejak lebih dari 130 tahun yang lalu. Ia datang ke Indonesia lebih dari 27 tahun yang lalu. Ini telah membangun kredibilitas yang baik di antara pelanggannya.
o memiliki posisi yang baik untuk semua produk mereka.
o Nestlé telah dibangun tiga pabrik di Indonesia. Susu pabrik di Pasuruan, kopi (Nescafé) pabrik di Bandar Lampung, dan pabrik permen di Tangerang.
o Nestlé memiliki jaringan distribusi yang besar. Produk ini tersedia di mana-mana, dari supermarket besar di kota-kota besar untuk kios-kios kecil di desa-desa.
o Nestlé memproduksi berbagai merek cocok untuk pasar target.
Sebagai contoh: ada berbagai jenis susu untuk berbagai jenis target pasar, seperti:
 Nesvita untuk orang dewasa
§
§Ideal untuk rendah anak-anak kelas ekonomi 
 Dancow untuk ekonomi menengah balita dan anak-anak kelas
§
 Nan untuk high-ekonomi kelas bayi
§
 Excella Emas untuk tinggi-ekonomi kelas balita
§
 Milo untuk anak-anak yang membutuhkan lebih banyak energi untuk melakukan kegiatan olahraga

 Nestlé memimpin pasar kelas rendah susu. Dari total penjualan susu rendah kelas selama 3,5 miliar Rupiah,  Nestle memiliki 50% dari mereka. Untuk saat ini, Dancow mengambil memimpin di pasar Indonesia.
o Nestle (Milo) memimpin pasar susu cokelat di Indonesia (85% dari pangsa pasar).
o Nestlé selalu melakukan penelitian lebih lanjut dan pengembangan untuk produk mereka, serta inovasi dan renovasi.
 Dancow memiliki varian yang berbeda begitu banyak rasa dan untuk usia target pasar yang berbeda

 Nestlé menambahkan nutrisi baru dalam produk Dancow, seperti untuk Dancow + ada Protectus Lactobacillus ditambahkan!

Nestlé promosi melalui TV komersial selalu menarik dan selalu menarik perhatian penonton dan keinginan oleh beberapa kata-kata sederhana namun mudah diingat dan kalimat, seperti Kit-Kat.

KELEMAHAN
Beberapa produk Nestle masih diimpor dari Malaysia dan Thailand sejak pabrik-pabrik produk tersebut belum didirikan di Indonesia, dan juga tidak ada bahan baku yang sesuai dan teknologi untuk produk, seperti:
 Milo (siap minum susu dan cokelat) dan semua produk coklat lainnya
§ (Kit-Kat, Crunch, Smarties, Sakti bar) masih diimpor dari Malaysia.
 Beruang Merek susu diimpor dari Thailand.
§
Beberapa produk tidak dipromosikan dengan baik, seperti:
Makanan bayi
Nestlé botol air 

Anyelir (susu kental untuk low-ekonomi masyarakat kelas)



PELUANG
o Nestle dan PT. Indofood Sukses Makmur membuat perusahaan patungan bernama PT. Nestle Indofood Citarasa Indonesia. Hal ini akan menciptakan peluang baru untuk memperluas jangkauan bisnis mereka. Terutama untuk Nestlé untuk mendistribusikan produk-produk mereka seperti produk mereka bumbu, Maggi.
o Nestlé SA dan The Coca Cola Company membuat perusahaan patungan 50:50 di Indonesia bernama PT AdeS Waters Indonesia Tbk untuk Hidup Nestlé Murni.
o Menurut sensus tahun 2000, ada lebih dari 20 juta balita di Indonesia. Rata-rata, setiap balita perlu minum sekitar 0,6-aku liter susu sehari. Di Indonesia, pertumbuhan pasar susu mencapai 20% -35% per tahun. Hal ini sangat bermanfaat untuk Nestlé, yang memiliki varietas produk susu bayi.
Nutrisi o tingkat bayi, balita, dan anak-anak di Indonesia masih rendah, ada kebutuhan untuk meningkatkan tingkat gizi. Oleh karena itu Nestle dapat menjual lebih banyak produk.
o Meningkatkan tingkat pendidikan dan pendapatan masyarakat Indonesia dan kenyataan bahwa sebagian besar keluarga di Indonesia adalah orang tua muda dengan dua anak. Dengan bekerja orang tua yang sibuk, alokasi dana untuk anak-anak mereka semakin besar.
o Di Indonesia, ada kebiasaan untuk mengkonsumsi produk yang lebih cepat atau ready-to-eat/drink. Dengan teknologi saat ini untuk menghasilkan produk instan dengan paket aman, Nestlé mampu memenuhi kebutuhan ini.
o Masih ada orang yang memiliki tingkat pendidikan rendah. Orang-orang ini telah menjadi buruh murah bagi pabrik-pabrik Nestle di Indonesia.



ANCAMAN 

o Ada persepsi dalam masyarakat bahwa merek asing lebih baik daripada yang lokal. Nestlé adalah dianggap sebagai merek lokal.
o Ada merek lebih asing daripada yang lokal yang menghasilkan jenis produk yang sama. Sehingga sulit untuk Nestlé untuk bersaing.
o Mead Johnson, salah satu pesaing Nestlé dalam menjual susu, telah membuka pabrik di Indonesia. Beberapa produk Mead Johnson:
 Sustagen anak, SMP,
 Enfagrow
o Jadi sebagai perusahaan susu lainnya internasional seperti Abbott (gain ditambah muka), Wyeth (Procal) dan Nutricia (Bebelac, Nutrilon). Perusahaan-perusahaan ini pesaing utama Nestlé untuk super premium dan susu premium kelas.
o Untuk kelas rendah susu, Nestle juga memiliki beberapa pesaing, seperti Frisian Flag, Indomilk, dan Sari Husada (SGM).
o Untuk makanan bayi, pesaing adalah Indofood (promina, matahari)
o Ada banyak tuntutan dari konsumen untuk nutrisi tambahan dalam produk susu. Itu membuat Nestlé telah melakukan banyak penelitian dan menambahkan nutrisi khusus untuk produk mereka.
o kesadaran untuk minum susu sejak usia dini masih rendah di Indonesia. Khusus untuk dewasa dan orang tua. Ada fakta bahwa susu yang dikonsumsi di Indonesia masih sepertiga dari yang dikonsumsi di Thailand dan setengah dari susu yang dikonsumsi di



Struktur Organisasi Bank BNI







Peter B. Stok - Komisaris Utama / Independen
Efektif menjabat sebagai Komisaris Utama sejak 4 Agustus 2009. Memperoleh gelar sarjana Ekonomii dari Universitas Padjadjaran, Bandung. Jabatan sebelumnya adalah sebagai Komisaris Bank Permata, Executive Vice President PT Bank Mandiri (Persero), Presiden Komisaris PT Bank Danamon Indonesia Tbk, Direktur Utama PT Bank Dagang Negara (Persero), Direktur Utama PT Bank Pelita, Wakil Presiden Direktur PT Bank Pelita dan Wakil Presiden Direktur PT Bank Niaga.


Tirta Hidayat - Wakil Komisaris Utama
Efektif menjabat sebagai Wakil Komisaris Utama sejak 12 Juli 2010. Memperoleh gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Indonesia dan gelar Doktor Ekonomi Regional dari Cornell University, New York, USA.

Saat ini  menjabat sebagai Deputi Bidang Ekonomi, Sekretariat Wakil Presiden R.I. dan Staf Pengajar Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia. Jabatan sebelumnya adalah Kepala Biro Perencanaan dan Pengkajian Ekonomi Makro, Bappenas, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan, Departemen Tenaga Kerja.







Ekoputro Adijayanto - Komisaris
Menjabat Komisaris sejak 12 Juli 2010. Memperoleh gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Indonesia.

Saat ini  menjabat sebagai Staf Khusus Menteri, Kementerian BUMN. Jabatan sebelumnya sebagai  Staf Ahli Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero), SVP-Group Head Corporate Secretary PT Bank Mandiri (Persero) Tbk  dan Coordinator General Manager Ritel Regional I PT Bank Permata Tbk.





HMS Latief

Bagus Rumbogo - Komisaris
Menjabat Komisaris sejak 12 Juli 2010. Memperoleh gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Indonesia.

Saat ini menjabat sebagai Staf Ahli Bidang Hubungan Antar Lembaga Kementerian BUMN. Jabatan sebelumnya antara lain  sebagai Inspektur Utama Kementerian PPN/Bappenas, Kepala Bidang pada Kantor Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Kepala Bagian pada Kantor Menteri Koordinator Bidang Wasbang dan PAN.







Bangun Sarwito Kusmuljono - Komisaris Independen
Menjabat Komisaris sejak 12 Juli 2010.  Memperoleh gelar Insinyur Teknik Kimia dari Institut Teknologi Bandung dan gelar Doktor SDA Lingkungan dari Institut Pertanian Bogor.

Jabatan sebelumnya sebagai Komisaris Independen PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Komisaris Utama PT Syariat Takaful Indonesia, Direktur Utama PT Permodalan Nasional Madani (Persero) dan Komisaris PT Bank Niaga Tbk

Achil Ridwan Djajaningrat - Komisaris Independen
Efektif menjabat sebagai Komisaris Independen sejak 24 Maret 2008. Memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Akuntansi dari Universitas Indonesia dan Master of Art dari Arthur D. Little School of Management Education Institute, Boston USA.
Jabatan sebelumnya sebagai Direktur Kepatuhan Bank BNI, Pimpinan Bank Indonesia Yogyakarta, Staf Ahli Dewan Gubernur Bank Indonesia dan Anggota Dewan Komisaris Indover Bank.
Fero Poerbonegoro - Komisaris Independen
Efektif menjabat sebagai Komisaris Independen sejak 1 Juli 2010 (sebelumnya sebagai Komisaris). Memperoleh gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Brawijaya dan Magister Manajemen Keuangan dari Universitas Gadjah Mada.
Jabatan sebelumnya antara lain sebagai Direktur Bank BNI, Direktur Bank Central Asia dan Project Manager New Core Banking di BNI.
















Daftar Pustaka :
1. Bulkis, Siti, Perencanaan Partisipatif-Bahan Kuliah Teori Perencanaan;
2. Tjokroamidjojo, Bintoro, Prof,H, – Manajemen Pembangunan, PT Toko Gunung Agung, Jakarta 1995;
3. Western, John, S, and Wilson, Paul, R – Planning Turbulent Environment, University of Queensland Press, St.Lucia Queensland, 1977;
4. Wiroatmodjo, Piran dkk, Otonomi dan Pmbangunan Daerah (Bahan ajar Diklatpim IV), Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia,2001

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar